SISWA SMAN 2 LAMONGAN CIPTAKAN OBAT DIARE BERBAHAN LALAT

Diposting pada: 2016-07-15, oleh : admin, Kategori: Tanpa Kategori

Alfian Nurfaizi dan Arum Ratna Wilis, siswa kelas dua belas dan siswi kelas sebelas SMA Negeri 2 Lamongan, baru saja menyabet medali emas pada olimpiade peneliti muda di Georgia. Medali emas tersebut diraih, setelah keduanya berhasil mempresentasikan hasil temuannya, yakni obat diare dari lalat. Alfian dan Arum mengalahkan puluhan peneliti muda dari 35 negara di dunia.

 

” Awalnya kita melihat lingkungan sekitar, kita melihat lalat biasanya kan dianggap sebagai fektor pembawa penyakit. Maka kami berfikir, mengapa lalat sendiri tidak terkena bakteri an virus meski mereka hidup di tempat yang kotor,” kata Arum saat ditemui di Laboratorium SMA Negeri 2 Lamongan, Senin (16/05/2016.

 

Setelah melakukan penelitian mulai bulan Oktober hingga Desember tahun 2015 lalu, Alfian dan Arum mendapati dalam tubuh lalat terdapat bakteri Actinomicetes, yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh.

 

” Bahteri actinomicetes bakteri ini dapat menghasilkan dua antibiotic yaitu aktinomisetin dan actinomisin, dan kami memanfaatkan bakteri yang ada dalam tubuh lalat rumah sebagai obat diare,” lanjut Arum sambil menunjukkan hasil penelitiannya bersama Alfian.

 

Sementara itu menurut Alfian, proses pembuatan obat diare berbahan dasar lalat cukup mudah. Pertama yang harus disiapkan adalah lalat rumahan. Selanjutnya, lalat tersebut direndam di dalam air murni selama satu hari, dan diletakkan di Inkubator. Setelah itu, air disaring dan dimasukkan kedalam botol-botol kecil.

 

Masih Kata Alfian, untuk memastikan obat diare dari lalat enar-benar bekerja, Ia dan Arum melakukan percobaan pada 3 ekor tikus dan 25 orang. ” Hasilnya bisa disimpulkan obat diare berbahan lalat rumah bekerja dan tidak punya efek samping baik untuk anak-anak dan ibu hamil,” tutur Alfian sambil menunjukkan medali emasnya.

 

Penggunaan obat diare berbahan lalat, tetap harus mengikuti dosis sesuai dengan usia. Untuk balita satu tetes, anak-anak dua tetes, dan untuk orang dewas tiga tetes.

 

Arum dan Alfian berharap, hasil penelitiannya bisa bermanfaat bagi masyarakat luas, dan menjadi batu lompatan untuk melakukan penelitian pada spesies lalat lainny.(mms)

 

Sumber : jombangnews

Alfian Nurfaizi dan Arum Ratna Wilis, siswa kelas dua belas dan siswi kelas sebelas SMA Negeri 2 Lamongan, baru saja menyabet medali emas pada olimpiade peneliti muda di Georgia. Medali emas tersebut diraih, setelah keduanya berhasil mempresentasikan hasil temuannya, yakni obat diare dari lalat. Alfian dan Arum mengalahkan puluhan peneliti muda dari 35 negara di dunia.
” Awalnya kita melihat lingkungan sekitar, kita melihat lalat biasanya kan dianggap sebagai fektor pembawa penyakit. Maka kami berfikir, mengapa lalat sendiri tidak terkena bakteri an virus meski mereka hidup di tempat yang kotor,” kata Arum saat ditemui di Laboratorium SMA Negeri 2 Lamongan, Senin (16/05/2016.
Setelah melakukan penelitian mulai bulan Oktober hingga Desember tahun 2015 lalu, Alfian dan Arum mendapati dalam tubuh lalat terdapat bakteri Actinomicetes, yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh.
” Bahteri actinomicetes bakteri ini dapat menghasilkan dua antibiotic yaitu aktinomisetin dan actinomisin, dan kami memanfaatkan bakteri yang ada dalam tubuh lalat rumah sebagai obat diare,” lanjut Arum sambil menunjukkan hasil penelitiannya bersama Alfian.
Sementara itu menurut Alfian, proses pembuatan obat diare berbahan dasar lalat cukup mudah. Pertama yang harus disiapkan adalah lalat rumahan. Selanjutnya, lalat tersebut direndam di dalam air murni selama satu hari, dan diletakkan di Inkubator. Setelah itu, air disaring dan dimasukkan kedalam botol-botol kecil.
Masih Kata Alfian, untuk memastikan obat diare dari lalat enar-benar bekerja, Ia dan Arum melakukan percobaan pada 3 ekor tikus dan 25 orang. ” Hasilnya bisa disimpulkan obat diare berbahan lalat rumah bekerja dan tidak punya efek samping baik untuk anak-anak dan ibu hamil,” tutur Alfian sambil menunjukkan medali emasnya.
Penggunaan obat diare berbahan lalat, tetap harus mengikuti dosis sesuai dengan usia. Untuk balita satu tetes, anak-anak dua tetes, dan untuk orang dewas tiga tetes.
Arum dan Alfian berharap, hasil penelitiannya bisa bermanfaat bagi masyarakat luas, dan menjadi batu lompatan untuk melakukan penelitian pada spesies lalat lainny.(mms)
Sumber : jomba

 


Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini