FINALIS INTEL ISEF ASAL INDONESIA JUGA JADI DUTA BUDAYA

Diposting pada: 2016-06-21, oleh : admin, Kategori: Tanpa Kategori

PHOENIX, KOMPAS.com – Pelajar-pelajar asal Indonesia yang mengikuti ajang kompetisi sains dan teknologi tingkat dunia, International Science and Engineering Fair (ISEF) yang diselenggarakan oleh Intel di Phoenix, Arizona, AS, juga menjadi duta kebudayaan.
Di sesi Public Visitation Day yang digelar pada hari Kamis (12/5/2016) di Phoenix Convention Center waktu setempat, pelajar-pelajar Indonesia sengaja mengenakan pakaian adat daerah masing-masing, seperti pakaian adat Jawa, Betawi, Sulawesi, Bali, dan sebagainya.
Public Visitation Day merupakan sesi dimana ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia, bersama dengan peserta dari negara lain, memamerkan penelitiannya di booth-booth yang disediakan. Pengunjung pameran berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ilmuwan, dosen, peneliti, hingga pelajar setingkat SMP yang menjadi observer.
Pantauan wartawan KompasTekno, Reska K. Nistanto, di tempat acara, tak jarang pengunjung datang ke booth peserta Indonesia karena tertarik dengan dandanan peserta Tanah Air.
“Kamu kelihatan cantik, boleh kita bertukar cinderamata?” kata salah seorang pengunjung wanita kepada Adhis Tessa, finalis dari Indonesia yang mengenakan baju khas Sulawesi.
Adhis pun dengan ramah memberikan pin bergambar presiden RI pertama, Soekarno, kepada pengunjung wanita tadi. Cinderamata berupa pin memang menjadi “buruan” peserta dan pengunjung Intel ISEF. Berbagai negara memiliki desain pin yang disesuaikan dengan kekhasan negaranya.
Setelah bertukar cinderamata, Adhis pun menceritakan risetnya tentang hubungan antara adat dan kelangsungan ekologi di daerahnya di Sulawesi.
Tak hanya Adhis, finalis lain dari Indonesia, yaitu Chabib Fachry Albab dan Millah Mu’azzah dari SMAN 2 Lamongan juga sempat menjelaskan kebudayaan Jawa kepada para pengunjung booth-nya, khususnya senjata tradisional keris.
Burung langka Trulek Jawa yang menjadi obyek penelitiannya memiliki semacam taji di sayapnya, yang oleh kepercayaan setempat dianggap sebagai keris. Kepada pengunjung internasional itulah mereka menjelaskan senjata tradisional Jawa itu.
“Memang ada misinya, mengapa mereka berpakaian seperti itu, untuk mengenalkan kekayaan adat budaya (Indonesia),” kata Rizal Alfian, pendamping tim Indonesia yang juga merupakan analis pengembangan peserta didik di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Tak dinyana, ternyata lewat pameran sains dan teknologi internasional, anak-anak Indonesia pun bisa mengenalkan kekayaan budaya negaranya.
Sumber : tekno.kompas.com

PHOENIX, KOMPAS.com – Pelajar-pelajar asal Indonesia yang mengikuti ajang kompetisi sains dan teknologi tingkat dunia, International Science and Engineering Fair (ISEF) yang diselenggarakan oleh Intel di Phoenix, Arizona, AS, juga menjadi duta kebudayaan.

 

Di sesi Public Visitation Day yang digelar pada hari Kamis (12/5/2016) di Phoenix Convention Center waktu setempat, pelajar-pelajar Indonesia sengaja mengenakan pakaian adat daerah masing-masing, seperti pakaian adat Jawa, Betawi, Sulawesi, Bali, dan sebagainya.

 

Public Visitation Day merupakan sesi dimana ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia, bersama dengan peserta dari negara lain, memamerkan penelitiannya di booth-booth yang disediakan. Pengunjung pameran berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ilmuwan, dosen, peneliti, hingga pelajar setingkat SMP yang menjadi observer.

 

Pantauan wartawan KompasTekno, Reska K. Nistanto, di tempat acara, tak jarang pengunjung datang ke booth peserta Indonesia karena tertarik dengan dandanan peserta Tanah Air.

 

“Kamu kelihatan cantik, boleh kita bertukar cinderamata?” kata salah seorang pengunjung wanita kepada Adhis Tessa, finalis dari Indonesia yang mengenakan baju khas Sulawesi.

 

Adhis pun dengan ramah memberikan pin bergambar presiden RI pertama, Soekarno, kepada pengunjung wanita tadi. Cinderamata berupa pin memang menjadi “buruan” peserta dan pengunjung Intel ISEF. Berbagai negara memiliki desain pin yang disesuaikan dengan kekhasan negaranya.

 

Setelah bertukar cinderamata, Adhis pun menceritakan risetnya tentang hubungan antara adat dan kelangsungan ekologi di daerahnya di Sulawesi.

 

Tak hanya Adhis, finalis lain dari Indonesia, yaitu Chabib Fachry Albab dan Millah Mu’azzah dari SMAN 2 Lamongan juga sempat menjelaskan kebudayaan Jawa kepada para pengunjung booth-nya, khususnya senjata tradisional keris.

 

Burung langka Trulek Jawa yang menjadi obyek penelitiannya memiliki semacam taji di sayapnya, yang oleh kepercayaan setempat dianggap sebagai keris. Kepada pengunjung internasional itulah mereka menjelaskan senjata tradisional Jawa itu.

 

“Memang ada misinya, mengapa mereka berpakaian seperti itu, untuk mengenalkan kekayaan adat budaya (Indonesia),” kata Rizal Alfian, pendamping tim Indonesia yang juga merupakan analis pengembangan peserta didik di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

 

Tak dinyana, ternyata lewat pameran sains dan teknologi internasional, anak-anak Indonesia pun bisa mengenalkan kekayaan budaya negaranya.

 

Sumber : tekno.kompas.com

 


Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini